Sabtu, 14 April 2012

Sang Pengelana Bodoh

Pada zaman dahulu kala, ada seorang pengelana yang sedang mengembara. Dalam perjalanan, karena ia sudah cukup lama berjalan, mampirlah ia di sebuah kedai. Uang sisa bekalnya tinggal sedikit, tapi karena perutnya lapar, maka ia membeli makanan dengan lauk sederhana. Baru saja sang pengelana akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menangis. Si pengelana bertanya kenapa anak itu menangis. Dengan masih terisak-isak si anak menjawab bahwa ia belum makan sejak pagi. Sebenarnya sang pengelana juga belum makan sejak kemarin, tapi karena kebaikan hatinya, ia berpikir bahwa anak itu lebih membutuhkan makan. Sang pengelana memberi makanan itu pada si anak. Si anak pun berhenti menangis, lalu langsung pergi tanpa mengucapkan apapun.
Sang pengelana lalu melanjutkan perjalanan. Saat hari mulai gelap ia memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon yang rindang. Baru saja matanya akan terlelap, ada suara seorang pemuda yang membangunkannya. Bisakah kau memberiku uang, tanya si pemuda itu. Aku menghilangkan uang ayahku, dan aku akan dihajarnya kalau tidak segera mendapat gantinya. Dengan kemurahan hatinya, sang pengelana memberikan sisa uang yang ia miliki pada si pemuda. Si pemuda pergi, seperti anak yang tadi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya, sang pengelana berencana untuk melanjutkan perjalanannya meninggalkan desa itu. Di perbatasan desa, di kedai yang kemarin, sang pengelana melihat makanan yang kemarin ia beri kepada seorang anak dibuang ke tempat sampah. Sementara anak itu kini sedang bermain-main bersama temannya. Ketika sang pengelana lewat anak itu berkata, “Hei, makananmu tidak enak! Dasar bodoh, dengan mudahnya kau tertipu, padahal mana mungkin aku akan memakan makanan sampah seperti itu!”, dengan diringi derai tawa teman-temannya. Sang pengelana hanya tersenyum, lalu kembali berjalan dan berkata dalam hati, ‘Setidaknya makanan yang kuberi telah memberi pelajaran bagi anak itu untuk tidak pernah memakannya lagi.’
Keluar dari perbatasan, sang pengelana bertemu pemuda yang tadi malam ia beri uang. Si pemuda berkata, “Hei, bodoh, terimakasih atas uangnya, berkat kamu aku bisa berjudi semalam suntuk bersama teman-temanku.” Si pemuda kembali tersenyum dan melanjutkan perjalanan. Dalam hati ia berkata, ‘Pemuda itu terlihat senang, setidaknya aku telah membuat orang merasa bahagia.’
Di desa lain, karena saat itu akhir tahun, salju mulai berjatuhan. Dinginnya yang menusuk tulang membuat siapapun pasti membutuhkan baju hangat untuk bisa bertahan di luar. Sang pengelana tidak punya mantel. Satu-satunya baju yang ia punya hanyalah yang sedang melekat di badannya. Saat malam tiba, ia berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba ia melihat seorang nenek yang sedang berjalan tanpa mantel. Si nenek terlihat sangat kedinginan.
Sang pengelana menghampirinya, lalu bertanya, “Nek, kenapa kau keluar tanpa memakai mantel, bukankah cuaca sangat dingin?” Si nenek sambil menggigil menjawab, “Ya anak muda, aku tak punya mantel, aku hanyalah seorang janda tua miskin, maukah kau memberiku mantel?”
“Seandainya aku punya, pasti akan kuberikan. Tapi sayang aku sendiri juga tak punya, dan uangku sudah habis. Pakailah bajuku saja, Nek. Setidaknya dengan pakaian dobel cukup untuk sementara menghangatkan badanmu.”, jawab sang pengelana. Lalu ia melepas bajunya dan memberikannya pada si nenek. Nenek itupun langsung pergi. Kini sang pengelana amat sangat kedinginan tanpa baju yang melindungi kulitnya. Sang pengelana pun terpaksa menggunakan dedaunan untuk ia jadikan baju.
Keesokan harinya, kembali sang pengelana melanjutkan perjalanan. Kali ini ia harus masuk ke hutan. Sebelum masuk hutan, sang pengelana melihat nenek tua yang tadi malam ia beri bajunya sedang menjual baju itu, bersama seorang kakek yang adalah suaminya. Sang pengelana tersenyum. Mungkin nenek itu memang sangat membutuhkan uang, pikirnya.
Di dalam hutan, sang pengelana bertemu dengan sesosok makhluk. Ternyata ia adalah goblin, dan goblin itu berkata bahwa ia membutuhkan sang pengelana, lalu meminta sang pengelana untuk masuk lebih dalam ke hutan. Sang pengelana tentu saja dengan senang hati berniat membantu si goblin. Setelah mereka sampai ke bagian hutan yang lebih gelap, si goblin berkata, “Aku lapar, sangat lapar. Aku membutuhkan tubuhmu untuk makananku. Bolehkah?” Sang pengelana berkata, “Jika memang itu kau butuhkan, aku tak keberatan.”
Si goblin langsung melahap tubuh sang pengelana. Pertama-tama tangannya, lalu kakinya, begitu seterusnya hingga yang tersisa hanyalah bagian kepalanya. Si goblin bertanya dengan heran mengapa sang pengelana tidak berontak bahkan tidak berteriak sedikitpun. Sang pengelana menjawab, “Kalau aku berteriak, aku akan menghambatmu untuk melahapku. Sehingga kau tak bisa merasa kenyang dengan segera.” Selesai berkata begitu, sang goblin langsung melahap mata sang pengelana, bagian ternikmat dari tubuh sang pengelana selain hatinya. Si goblin lalu memberikan secarik kertas yang sebelumnya ia tulisi kata “BODOH”, dan berkata, “Ini hadiah untukmu, terimakasih atas santapan lezatnya”, lalu pergi.
Sang pengelana, yang telah kehilangan matanya, tidak tahu apa isi tulisan itu. Ia berkali-kali mengucapkan “Terimakasih, terimakasih, aku sangat senang. Baru kali ini ada yang mengucapkan terimakasih padaku dan memberi hadiah padaku. Terimakasih…”
Air matanya terus bercucuran karena perasaan haru dan bahagia meski ia tidak mempunyai mata. tak lama kemudian, sang pengelana menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dengan seulas senyuman bahagia.

itulah cerita singkat dari si pengelana bodoh yg begitu mudah percaya dan akhirnya tertipu.
tapi apakah dia benar benar bodoh ?
cobalah kita pejamkan mata kita, kita renungkan apa yg telah pengelana itu lakukan.
bukankah dia begitu baik dan iklas memberikan bantuan kepada orang lain ?
bukankah dia adalah orang yg peduli dengan orang sekitarnya ?
bukankah apa yg dia lakukan itu adalah tindakan yg mulia untuk membantu sesama ? 
bukankah orang sepertinya sudah jarang kita temui didunia ini ?
apakah kita pun menganggapnya sebagai pengelana bodoh juga ??

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar